Melihat Dikti Sebagai Sistem Pendidikan: Mengapa Kita Perlu Cara Pandang Baru

Melihat Dikti Sebagai Sistem Pendidikan
Penulis: Ikhwan Fauzi  |  Tanggal: 27 November 2025

Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan tinggi sering menjadi sorotan publik. Mulai dari kebijakan baru, transformasi digital, hingga dinamika mahasiswa dan dunia kampus. Di balik semua itu, ada satu aktor besar yang kadang terasa jauh, tetapi sesungguhnya bekerja mengatur aliran keseluruhan: Direktorat Pendidikan Tinggi, atau yang akrab kita sebut Dikti.

Saya memandang Dikti bukan hanya sebagai lembaga pemerintah yang sibuk membuat regulasi. Jauh lebih dari itu, Dikti adalah sebuah sistem besar yang merangkai banyak elemen pendidikan tinggi agar mampu bergerak ke arah yang sama. Jika pendidikan kita diibaratkan sebuah orkestra, maka Dikti adalah dirijennya yang menentukan tempo, menjaga harmoni, dan memastikan setiap instrumen memainkan perannya dengan baik.

Di bawah payung besar itu berdiri berbagai perguruan tinggi: universitas, institut, sekolah tinggi, hingga lembaga vokasi. Masing-masing punya otonomi, identitas, dan tantangan unik. Namun semuanya tetap harus mengacu pada arah besar yang telah ditetapkan. Hal ini penting agar kualitas pendidikan kita tidak terpecah-pecah atau berjalan sendiri-sendiri tanpa standar yang jelas.

Lebih menarik lagi, ketika kita menelusuri sistem ini hingga ke akar, kita akan menemukan subsistem yang lebih kecil: kurikulum, dosen, mahasiswa, proses belajar, fasilitas, tata kelola, penelitian, hingga suasana di ruang kelas. Semua bagian ini saling memengaruhi. Kebijakan yang baik tidak akan berdampak jika subsistem tidak bekerja. Sebaliknya, inovasi kecil di ruang kuliah bisa menjadi inspirasi besar apabila didukung oleh sistem yang sehat.

Satu hal yang sering terlewat adalah bahwa inti dari seluruh sistem pendidikan ini sesungguhnya adalah manusia. Dosen bukan sekadar penyampai materi, melainkan penggerak utama yang menerjemahkan kebijakan menjadi pembelajaran nyata. Mahasiswa bukan hanya peserta pendidikan, tetapi agen perubahan yang membawa semangat baru. Kampus pun bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat pertumbuhan gagasan.

Kita melihat transformasi besar dalam pendidikan tinggi beberapa tahun terakhir, misalnya melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, penguatan riset, kolaborasi dengan industri, dan digitalisasi layanan kampus. Kebijakan-kebijakan itu bukan sekadar dokumen tebal, melainkan upaya adaptasi sistem pendidikan agar tetap relevan di tengah pergeseran zaman dan perkembangan teknologi yang bergerak cepat.

Namun transformasi tidak akan berhasil jika kita hanya melihat Dikti sebagai regulator. Kita perlu melihatnya sebagai suprasistem yang menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan tinggi. Cara pandang ini penting karena menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya urusan pemerintah, tetapi juga hasil kerja bersama antara dosen, mahasiswa, masyarakat, dan dunia usaha.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tinggi Indonesia bergantung pada seberapa baik seluruh komponen ini berkolaborasi. Ketika suprasistem, sistem, dan subsistem bergerak harmonis, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi manusia yang siap menghadapi tantangan global dengan pengetahuan, karakter, dan kepekaan sosial.

Melihat Dikti sebagai sistem pendidikan memberi kita harapan sekaligus pekerjaan rumah: membangun ekosistem kampus yang lebih adaptif, lebih terbuka, dan lebih relevan bagi generasi yang sedang menatap masa depan dengan penuh kemungkinan.

Post a Comment for "Melihat Dikti Sebagai Sistem Pendidikan: Mengapa Kita Perlu Cara Pandang Baru"